• Blog Stats

    • 94 hits

Siapakah pencipta Tuhan?

Salah satu argumen yang biasa orang gunakan dalam otaknya untuk membuktikan keberadaan Tuhan adalah argumen tentang penciptaan Alam semesta.

Kita semua tahu (Well, paling tidak saya anggap tahu ^^ ) tentang hukum sebab akibat. Anda bisa ada karena orang tua anda ada, orang tua anda ada karen ada nenek anda terus sampai keatas ke nenek moyang kita. Nenek moyang kita bisa ada karena bumi ada, nah bumi ada karena ada alam tata surya  ada. Tata surya ada sampai di suatu titik kita berfikir:

“Awal mulanya bagaimana bisa ada ya dari kekosongan hingga bisa ke keberadaan?”

Nah orang-orang pada umumnya bakal berpikir: Pasti ada penyebab segala sesuatunya, pencipta Alam semesta, Dia adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta karena ga mungkin dong alam semesta ini ada seujug-ujug muncul? Jadi Tuhan itu ga mungkin diciptakan tapi Dia lah yang menciptakan alam semesta ini.

Terus saya balik pernyataannya, kalau memang Tuhan itu ada, siapakah pencipta Tuhan?

Lah, ga ada lah! Tuhan ga ada penciptanya! Dia yang paling awal tanpa waktu bermula!

Biasanya itulah yang saya sering liat di blog-blog kita (walopun kebanykan pada kopas-kopasan artikelnya hehe). Nah, kebetulan tadi saya jalan-jalan dan menemukan sebuah pernyataan unik yang membuat saya tergelitik di http://forum.dudung.net/index.php?topic=18555.0

Tulisan asli:

“Namun menurut dya alam semesta ada sendiri seperti kebenaran adanya tuhan bahwa tidak ada yg menciptakan… Jika tuhan tidak ada yg menciptakan bukankah alam semesta bisa dikatakan juga tidak ada yg menciptakan. Begitu katanya. Gimana cara buktiinnya ya.”

Yang coba saya garis bawahi (dengan perubahan sedikit):

“Jika Tuhan memang tidak ada yg menciptakan, bukankah dengan logika yang sama kita juga bisa tuliskan bahwa sebenarnya alam semesta bisa jadi memang tidak ada yg menciptakan.”

Maaf kepada pemilik asli, saya mengedit seenaknya (dengan keterbatasan ilmu saya yang amat sangat) . Tapi kata-kata itu benar-benar membuat saya tersenyum sendiri sembari berpikir.

Banyak dari kaum yang beragama dan meyakini adanya Tuhan berpikir bahwa alam semesta ini ada yang menciptakan dan alam semesta ini sendiri adalah bukti keberadaan Tuhan. Namun ketika ditanyakan siapakah pencipta Tuhan mereka langsung mentah-mentah menghardik bahwa tidak mungkin ada pencipta Tuhan!

Yang ingin saya coba sodorkan disini adalah kenapa kita bisa percaya bahwa Tuhan itu tidak ada yang menciptakan tapi kita percaya bahwa alam semesta ini diciptakan? Kalau kita bisa menerima Tuhan langsung ada tidak diciptakan, kenapa kita tidak dari awal berpikir bahwa alam semesta ini langsung ada tidak memiliki awalan? Atau memang orang-orang membutuhkan sosok Tuhan untuk mendefinisikan apa yang tidak kita ketahui?

Negara Islam

Kalau jadi negara islam itu berarti diam saja saat Palestina dihajar Israel, mendingan kita jadi negara sosialis macem venezuela aja yang jelas-jelas mengusir Dubes Israel dari tanahnya

Kalau jadi negara islam berarti malah membangun jam besar untuk ambisinya seharga 800 juta dollar saat palestina pada kelaparan, mendingan kita jadi Indonesia aja yang jelas-jelas mendesak sidang darurat PBB buat palestina

Kalau negara-negara islam sunni pada bilang syiah itu sesat, mendingan jadi negara islam syiah macam iran saja tapi berani tuntut israel

Tentang Tuhan (Kisah pencarian Tuhan Ibrahim)

Saya sudah berhenti bicara mengenai Tuhan, menurut saya pada akhirnya keberadaan Tuhan ada atau tidak hanya bergantung pada keyakinan sendiri. Bahkan dalam Islam pun begitu

Loh kok gitu? Begini biarkan saya bercerita tentang Ibrahim. Cerita Ibrahim ini dalam Al Quran diabadikan pada surat  al-An’am [6]: 75-79
وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ(75) فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ(76)فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ(77)فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَاقَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(78) إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ(79)
Artinya: “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin (75).

Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam” (76).

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat” (77).

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (78).

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (79).” (cuplikan ayat dan arti saya kopas dari http://syofyanhadi.blogspot.com/2008/08/ibrahim-mencari-tuhan.html)

Kisah ini cukup unik menurut saya. Mengapa? Begini. Ibrahim mencari Tuhan atau meyakinkan dirinya mengenai keberadaan Tuhan. Ia melihat bintang kemudian menganggap bintang itu tuhan, kemudian bintang tenggelam dan ia merasa bukan Tuhan apabila ia datang dan tenggelam. Lalu ia melihat matahari dan berpikir bahwa matahari itulah tuhannya. Lalu kemudian matahari pun terbenam. Dan ia juga merasa matahari bukankah Tuhannya.

Lalu sampailah pada suatu kondisi unik. Bagaimana Ibrahim bisa menemukan bahwa Allah adalah Tuhannya? Maksud saya, orang yang menganggap matahari dan bintang adalah Tuhan mungkin bisa dimaklumi bahwa Bintang dan matahari itu terlihat. Lalu bagaimana dengan Allah? Allah tak terlihat mata. Dan dari segala Tuhan yang tak terlihat, bagaimana ia bisa memilih Allah?

Jawaban itu dapat dilihat pada ayat 75, “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Allah sendirilah memberi petunjuk itu kepada dia! Mengapa? Karena sederhana, jika Tuhan yang seperti Allah itu memang ada maka ia takkan tersentuh oleh panca Indra kita. Bagaimana bisa yang terbatas mendefinisikan tak terbatas?

Jadi begitu, ada atau tidak adanya Tuhan bergantung kepada individu. Saya suka kata-katanya Andre Comte-Sponville pada “Spiritualisme tanpa Tuhan”, ia berkata bahwa tidak ada gunanya membuktikan Tuhan itu tidak ada pada pihak yang memang membutuhkan Tuhan, dan sebaliknya. Bukankah Allah sendiri pernah berkata bahwa:

“Andaikan seluruh makhluk berkumpul dan melawan-Ku , kekuasaan-Ku tidak akan berkurang sedikit pun”

Karena itu saya berhenti bicara mengenai Tuhan. Saya akan mulai berbicara mengenai orang dan masyarakat saja

Apakah Tuhan itu ada?

#Disclaimer: Konsep Tuhan yang saya gunakan dalam tulisan ini adalah konsep Tuhan Abrahamistik terutama dari sudut pandang Islam karena saya sendiri adalah seorang Muslim.

Oke, sekarang kita mempunyai suatu pertanyaan sederhana namun menarik: Apakah Tuhan itu ada? Berabad-abad, bahkan mungkin sejak umat manusia sudah mampu mengembangkan suatu kecerdasan untuk berpikir telah muncul suatu konsep: Tuhan.

Mengapa saya katakan konsep? Karena keberadaan Tuhan itu masih sulit dibuktikan ataupun ditolak. Mungkin pemikiran ini akan banyak disalahkan semua orang. Begini, manusia menerima dan memproses segala informasi yang ada melalui panca indra mereka. Contoh,  saat kita melihat sesuatu yang berbentuk indah, berwarna merah, memiliki aroma yang menyenangkan, dan saat diraba memiliki duri-duri yang terdapat dibatangnya, dan setelah diproses di otak kita, dapat kita simpulkan bahwa benda yang kita amati adalah bunga mawar.

Hampir semua (bahkan bisa dikatakan semua) proses yang kita kerjakan menyangkut sesuatu itu diproses dari panca indra kita, diolah oleh otak kita untuk nantinya akan kita simpulkan. Dan selama ini hal itu cukup ampuh untuk menerangkan banyak hal. Untuk memisahkan antara mana informasi yang benar dan yang salah.

Jadi andaikan suatu ketika anda mendengar berita ada seseorang yang memiliki seekor unicorn. Lalu anda datangi unicorn itu, lalu setelah anda bandingkan dengan ciri-ciri unicorn ternyata tanduk yang ada pada unicorn itu gampang terjatuh dan malahan terbuat dari kayu. Kesimpulannya? Unicorn itu palsu.

Mengapa saya mencoba memberikan statement diatas pada tulisan mengenai Tuhan? Hal ini dikarenakan bahwa untuk Tuhan, pendekatan yang harus diambil amat sangat berbeda. Tuhan dalam Islam tidak terlihat. Tuhan yang sama juga tidak dapat dicium, diraba, didengar, apalagi dirasakan. Singkatnya, Tuhan ini berada diluar kemampuan panca indra kita!

Lalu apa komplikasinya? Keberadaan Tuhan amat sulit untuk dibuktikan! Tuhan berada diluar kemampuan yang biasanya ampuh bagi kita untuk mengelola informasi dan menyaring antara berita palsu dan yang asli. Tuhan tak bisa dibuktikan dengan cara umum dengan logika yang sama juga bisa dikatakan bahwa Ia tidak bisa dibuktikan bahwa tak ada.

Jadi, jangan salahkan orang-orang yang menolak ketidak beradaan Tuhan. Lha wong emang ga bisa diproses. Lalu kemudian anda sodorkan ayat-ayat yang menerangkan kekuasaan Tuhan. Mereka bakal tetep bisa ngeyel bahwa hal itu bukan jaminan bahwa Tuhan tetap ada. Apa hubungan antara penciptaan manusia dengan Tuhan? Hal itu hal yang memang harus berjalan begitu saja.

Tidak akan ketemu titik temu. Yang bertuhan pun (berani taruhan) akan kesulitan menjelaskan tentang bukti keberadaan Tuhan. Anda bisa beragumen:

“Lihat dong penciptaan alam semesta. Para ahli membuktikan bahwa kesempatan alam semesta dan bumi ini terbentuk adalah satu banding sekian. Amat teramat kecil sekali! Itu bukti keberadaan Tuhan!”

Yang atheis pun bisa berpendapat:

“Satu banding beberapa itu berarti masih mungkin! Ibaratnya kita kalo maen poker, bumi bisa tercipta kalo kita dapet royal straight flush dua atau tiga kali berturut2. Amat teramat kecil sekali, namun MUNGKIN. Lain jika kita disuruh mengambil lima buah As. Itu baru MUSTAHIL dan baru disitu Tuhan diperlukan!”

Sulit memang menemukan titik temu antara kedua kubu, theis dan atheis karena memang titik berangkat mereka sudah berbeda. Tuhan tetap sulit dibuktikan untuk ada apalagi untuk dibuktikan tentang ketidak adaannya. Lalu pertanyaannya, apakah sebenarnya Tuhan itu ada?

Well jujur, saya masih belum tahu. Namun saya masih beragama. Panggil saya pengecut (karena memang saya begitu). Saya merasa bahwa memiliki agama semacam membeli asuransi. Jadi nanti ternyata saat mati dan ternyata surga dan neraka itu ada, setidaknya saya tetap bisa masuk surga (walau kemungkinannnya teramat kecil sekali :P )

Hello world!

Halo, ini adalah posting nama saya

Nama saya Shoesta, Shoesta Hamdani. Oke itu nama palsu. Mengapa saya menggunakan nama palsu? Well sederhana, saya tak ingin nama asli saya diketahui. Belum. Akan? Well gatau juga, hehe

Saya ingin menulis di wordpress, entah kenapa. Mungkin karena saya sering mendapat ilmu yang menyenangkan dari blog2 disini.

Oke cukup sekian dulu postingan saya. Terima kasih

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.